1. Potential Entrance (Ancaman Pendatang Baru)
Dalam Industri F&B khususnya bisnis bakso goreng, ancaman pada bisnis baru seperti Bakso Goreng Bobo tergolong cukup tinggi. Tentunya industri ini mudah dan banyak memiliki pesaing terutama oleh pelaku UMKM yang memiliki modal kecil hingga menengah. Namun, Bakso Goreng Bobo memiliki peluang dalam menciptakan keunggulan bersaing melalui berbagai faktor sebagai berikut:
A. Hambatan masuk (Barriers to entry)
1) Modal awal relatif terjangkau
Melalui bisnis Bakso Goreng Bobo di Indonesia memerlukan investasi awal sekitar 80-90 juta. Dana tersebut digunakan dalam memenuhi berbagai kebutuhan operasional sebelum usaha berkembang seperti pengadaan lima gerobak, mesin penggiling daging, freezer, mesin pengaduk adonan, peralatan dapur serta bahan yang diperlukan untuk produksi (Eryana, 2018) Meskipun jumlah awal yang dikeluarkan cukup besar, tentunya modal tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan yang matang dari kegiatan produksi dan penjualan.
2) Perizinan dan Regulasi yang kompleks
Operasional pada Bisnis Bakso Goreng Bobo menghadapi tantangan pada awal terjun ke dunia bisnis menyangkut dalam hal perizinan, karena melibatkan berbagai aspek seperti kepemilikan izin usaha, lokasi berjualan dan sertifikasi keamanan pada makanan. Selain itu, adanya perbedaan ketentuan perizinan di setiap daerah dapat menjadi kendala bagi pelaku usaha dalam melengkapi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan (Mayasari, 2025)
3) Cita Rasa yang konsisten
Konsumen masa kini, terutama Gen Z dan milenial sangat memperhatikan rasa yang menjadi faktor utama pada pembelian Bakso Goreng Bobo melaporkan bahwa Gen Z tertarik pada merek makanan yang mampu dalam mewakili ekspresi diri dan emosi mereka dibanding hanya sekadar menjual produk. Oleh karena itu, inovasi menu seperti yang dikembangkan Bakso Goreng Bobo memiliki posisi yang unggul dalam aspek keterikatan dengan pelanggan (Kristanto & Dika, 2025)
4) Branding dan Komunitas Online yang Kuat
Bakso Goreng Bobo memanfaatkan Instagram sebagai salah satu media dalam berinteraksi secara langsung dengan pelanggan. Berdasarkan Datareportal (2026) media sosial menjadi sumber yang digunakan oleh konsumen Gen Z ketika mencari rekomendasi makanan sebelum melakukan pembelian. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru terutama belum memiliki strategi konten digital yang mampu menarik perhatian audiens dan membangun hubungan dengan pelanggan. Hal ini membuat mereka lebih sulit untuk bersaing dengan usaha yang telah memiliki loyalitas pelanggan sejak awal.
B. Reaksi pesaing yang ada (Competitor Reaction)
Dalam menghadapi kehadiran Bakso Goreng Bobo sebagai pemain baru yang melakukan pendekatan dengan pendekatan branding yang kuat dan inovatif. Pesaing yang telah lebih dulu menjalankan usahanya di pasar dapat melakukan berbagai strategi untuk mempertahankan posisi mereka. Tentunya kehadiran Bakso Goreng Bobo berpotensi dalam pesaing melakukan berbagai cara agar lebih unggul dibandingkan Bakso Goreng Bobo yang memiliki keunikan dan fleksibilitas layanan yang baik. Menurut Deloitte (2026) menyebutkan bahwa 60% konsumen Gen Z tertarik pada merek makanan yang dapat memberikan nilai sensasi emosional atau pengalaman unik.
1) Peningkatan Aktivitas Digital Marketing
Melihat pendekatan Bakso Goreng Bobo yang aktif dalam mengelola komunitas pelanggan melalui media sosial merupakan langkah krusial untuk memperluas jangkauan pasar mereka yang berbasis di Cipondoh, Tangerang, dan area Jabodetabek. Sebagai produk kuliner yang mengandalkan tekstur renyah (crispy outside, greatness inside) serta sering hadir di berbagai festival kuliner (event pop-up), strategi pemasaran digital mereka harus berfokus pada visual yang menggugah selera dan optimalisasi kanal penjualan (Rauf et al., 2021)
2) Pemberian Promosi dan Diskon Kompetitif
Untuk menjaga pelanggan agar tidak beralih ke Bakso Goreng Bobo, pesaing mengambil langkah dalam memberikan potongan harga, membuat promo dalam periode tertentu atau menawarkan paket dengan harga menarik. Cara tersebut dapat menjadi pilihan bagi pesaing dan sering digunakan dalam pasar dengan low switching cost (Hakim & Amilahaq, 2025)
3) Pemesanan makananan melalui Whatsapp bisnis & Event Organizer
Pesaing akan menggunakan Whatsapp bisnis untuk menjangkau konsumen mereka lebih luas. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui pemanfaatan media digital, peningkatan variasi produk serta membangun kerja sama dengan pihak lain yang sesuai dengan target pasar. Dengan strategi tersebut, Bakso Goreng Bobo dapat meningkatkan peluang penjualan sekaligus mempertahankan daya saing di tengah persaingan bisnis kuliner.Selain itu, mereka juga dapat bekerja sama dengan berbagai penyelenggara acara agar produknya lebih mudah dikenal oleh pelanggan sesuai dengan target pasar. Kondisi itu justru dapat menjadi dorongan bagi Bakso Goreng Bobo dalam mengembangkan produk dan mencari cara dalam mempertahankan daya saing.
2. Product Substitute (Ancaman Produk Pengganti)
Dalam Industri Food & Beverages, khususnya pada segmen Bakso Goreng potensi ancaman dari produk pengganti tergolong tinggi. Produk pengganti dapat memberikan nilai dan fungsi serupa yaitu praktis, cepat disajikan, dan harganya terjangkau. Contoh produk substitusi yang menjadi pesaing tidak langsung meliputi cilor, otak-otak, usus krispi. Selain itu, dengan kemudahan konsumen dalam memesan makanan melalui Shopee food, Grabfood , GoFood membuat pilihan makanan pengganti semakin beragam. Konsumen dapat dengan mudah mencoba produk yang dianggap sesuai dengan selera, harga, maupun kebutuhannya. Oleh karena itu, Bakso Goreng Bobo perlu dalam memperhatikan beberapa faktor yang menjadi ancaman dari produk substitusi diantaranya:
A. Camilan sejenisÂ
Konsumen dapat dengan mudah beralih ke alternatif lain yang tersedia di sekitar lokasi seperti kedai street food yang menawarkan pilihan camilan dengan harga atau rasa yang berbeda. Contohnya bisa digantikan oleh pesaing yang telah ada sebelumnya seperti Bakso Goreng Gajah, Bakso Goreng Assoy.
B. Camilan yang dibuat sendiri
Konsumen memiliki pilihan dalam membuat camilan di rumah. Bahan-bahan dalam membuat makanan ringan seperti bakso, tahu atau berbagai gorengan relatif mudah ditemukan sehingga konsumen dapat menyesuaikan rasa dan jumlah makanan sesuai dengan kebutuhan. Pilihan ini menjadi alternatif bagi konsumen dalam mempertimbangkan harga dan mengurangi pengurangan untuk membeli dari luar.
3. Bargaining Power of Buyer (Kekuatan Tawar Menawar Pembeli)
Dalam industri Food & Beverage, konsumen memiliki posisi yang kuat dalam memengaruhi strategi yang dijalankan oleh suatu usaha. Banyaknya pilihan makanan yang tersedia membuat konsumen leluasa dalam menentukan produk yang mau dibeli. Mereka tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga memperhatikan rasa, kualitas produk, pelayanan hingga menu baru. Kondisi ini membuat pelaku usaha perlu dalam memahami kebutuhan konsumen agar tidak kehilangan pelanggan, Bakso Goreng Bobo menargetkan beberapa kelompok konsumen seperti anak muda, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum yang mencari makanan ringan dengan harga yang sesuai. Konsumen memiliki pilihan dalam memilih cemilan lain sehingga keputusan pembelian dapat berubah ketika menemukan yang lebih menarik. Faktor seperti harga yang terjangkau, cita rasa, kualitas bahan, kebersihan, ukuran atau jumlah produk serta variasi menu dapat menjadi pertimbangan sebelum konsumen melakukan pembelian.
Laporan McKinsey & Company (2026) menunjukkan adanya perubahan konsumen dalam mempertimbangkan membeli makanan camilan di Indonesia. Konsumen semakin memperhatikan kesesuaian antara harga yang dibayarkan dengan manfaat atau nilai yang diperoleh (value-for-money). Selain itu pengalaman yang diberikan oleh suatu brand memengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan repeat order. Sekitar 69% konsumen Indonesia menyatakan kecenderungan dalam memilih brand makanan yang menawarkan promo , memiliki kemasan yang menarik serta memberikan pelayanan yang responsif. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen memiliki peran yang besar dalam menentukan keberlangsungan dan daya saing dari bisnis makanan.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Bakso Goreng Bobo dapat memberikan penawaran yang membuat konsumen memiliki alasan dalam repeat order. Salah satunya dengan melakukan promo pada waktu tertentu, loyalty card, variasi menu ataupun kemasan yang disesuaikan dengan momentum tertentu. Strategi tersebut dapat memberikan pengalaman yang berbeda kepada konsumen sehingga produk tidak hanya dilihat dari sisi harga, tetapi juga memiliki nilai tambah yang dapat meningkatkan ketertarikan dan loyalitas pelanggan.
Sebagai contoh diferensiasi dengan kompetitor, dapat dilihat dari brand seperti Bakso Goreng Assoy yang menjual Bakso Goreng di platform online Shopee. Berdasakan review pengguna Shopee (2026), Bakso Goreng Assoy mendapatkan beberapa ulasan negatif terkait rasa yang masih agak asin, sambal yang kurang pedas, order extra sambal tapi tidak dikasih, minta untuk dipotong tetapi tidak dipotong. Tentunya hal tersebut membuat konsumen kecewa dan mungkin akan mengakibatkan pelanggan tidak melakukan repeat order lagi.
Maka dari itu Bakso Goreng Bobo mengembangkan strategi dengan menu limited edition yang hadir ketika momentum khusus seperti Valentine, Imlek, Natal, Lebaran dan hari besar lainnya. Jadi tidak hanya melulu membuat variasi menu yang berbeda, tetapi memikirkan konsep kemasan yang tampilan visualnya dapat dirancang secara eksklusif dan eye catching. Strategi ini bertujuan dalam menciptakan nilai emosional serta membangun hubungan personal dengan konsumen sekaligus mendorong konsumen dalam melakukan repeat order.
Secara keseluruhan, kekuatan tawar menawar pembeli dalam bisnis Bakso Goreng Bobo tergolong cukup tinggi, namun hal ini dapat dikelola dengan baik melalui pelayanan yang baik, menghadirkan banyak inovasi baru, menciptakan relationship yang baik dengan pelanggan.
4. Bargaining Power of Supplier (Kekuatan Tawar Menawar Pemasok)
Bargaining Power of Supplier dalam bisnis Bakso Goreng Bobo diperlukan hubungan dan negosiasi yang baik dengan pemasok untuk mendapatkan harga bahan baku yang sesuai dan anggaran dapat dialokasikan untuk kebutuhan operasional lainnya. Selain mempertimbangkan harga, Bakso Goreng Bobo perlu dalam memastikan bahan baku yang diperoleh dengan memiliki kualitas yang baik dan tersedia secara konsisten. Pengelolaan hubungan dengan pemasok menjadi penting dalam menghindari kekurangan stok yang dapat menghambat proses produksi. Dengan adanya Bargaining Power of Suppliers, bisnis dapat dengan mudah dalam mengontrol biaya bahan baku, menjaga kualitas produk serta memastikan ketersediaan bahan. Adapun beberapa sumber pemasok yang dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan bahan baku Bakso Goreng Bobo, antara lain:
| NO | Pemasok | Bahan Baku | Kelebihan | Kekurangan |
| 1 | Pemasok Pedagang Pasar Tradisional | Ayam | Harga terjangkau dibandingkan pasar modern, lebih mudah didapatkan bahan baku segar serta dapat negosiasi dengan pemasok. | Harga dapat berubah sewaktu-waktu serta tergantung pada kondisi dan musim. |
| Cabai keriting | ||||
| Jeruk kunci | ||||
| 2 | Pemasok Toko Agen Supplier (Bahan Baku Kering dan Bahan Baku basah) | Ayam giling | Harga stabil dapat kerja sama dan negosiasi dengan pemasok. | Menetapkan jumlah order dalam volume besar. |
| Garam | ||||
| Tepung tapioka | ||||
| Gula pasir | ||||
| Penyedap rasa | ||||
| Lada | ||||
| 3 | Pemasok Toko Supplier Kemasan | Paper Tray Kraft ukuran M dan L | Harga lebih murah dapat negosiasi dengan pemasok | Membutuhkan pembelian dalam jumlah besar. |
| Kantong Plastik HD ukuran 12×25 | ||||
| 4 | Pemasok Toko Percetakan | Label Sticker | Harga lebih murah ditawar dalam volume pembelian besar | Butuh volume pembelian besar |
5. Business Rivalry (Intensitas Persaingan)
A. Jumlah pesaing yang banyak
Persaingan dalam industri food & beverage di Indonesia, terutama pada produk konsep Bakso Goreng Bobo termasuk cukup tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya yang menawarkan produk sejenis, persaingan ini tidak hanya berasal dari ruko ataupun franchise ternama tetapi dari pedagang kaki lima hingga UMKM (Mathory & Nurmaida 2023). Beberapa kompetitor memiliki keunggulan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen seperti Bakso Goreng Assoy yang menawarkan perpaduan cita rasa pedas, manis, gurih serta Bakso Goreng Gajah yang dikenal dengan Bakso Goreng berukuran jumbo. Selain itu, hadirnya layanan pesan antar makanan seperti Shopee food, Grabfood , GoFood turut membuat persaingan semakin kompetitif. Konsumen dapat dengan mudah melihat dan membandingkan berbagai pilihan produk berdasarkan harga, menu hingga promo yang ditawarkan. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat loyalitas pelanggan cenderung rendah karena konsumen memiliki banyak alternatif dan relatif mudah dalam beralih ke merek lain. Oleh karena itu, Bakso Goreng Bobo perlu dalam membangun hubungan yang baik dengan pelanggan melalui Customer Relationship Management (CRM) sekaligus menentukan target pasar yang terarah. Fokus utama yaitu mahasiswa yang mempertimbangkan harga dengan tetap mendapatkan produk yang berkualitas serta para keluarga yang sedang berlibur dan berkunjung ke berbagai event booth Bakso Goreng Bobo. Dengan menawarkan camilan yang praktis, terjangkau dan berkualitas, Bakso Goreng Bobo dapat menciptakan nilai yang sesuai dengan kebutuhan target konsumen.
B. Pertumbuhan Industri yang Lambat
Kondisi pertumbuhan industri yang cenderung melambat membuat pelaku usaha F&B perlu memiliki strategi yang tepat dalam mempertahankan keberadaan produknya di pasar. Dalam kondisi tersebut, Bakso Goreng Bobo memilih pendekatan dengan melalui penetapan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan beberapa kompetitor. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap harga pasar, produk dari Bakso Goreng Gajah berkisar Rp39.000-Rp49.000, sedangkan Bakso Goreng Assoy berkisar Rp54.000-Rp57.000. Sedangkan Bakso Goreng Bobo menerapkan harga yang lebih murah dengan rentang harga Rp20.000-Rp30.000 untuk menjaga target pasar mahasiswa dan pekerja muda. Strategi awal untuk meningkatkan daya tarik konsumen dengan melakukan Foodblogger, serta mempertahankan cita rasa yang konsisten. Penerapan strategi tersebut diharapkan mampu dalam menarik pembelian sejak awal, mempertahankan pendapatan usaha, serta mendorong konsumen dalam merekomendasikan produk kepada orang lain melalui word-of-mouth. (Dewi & Widjaja, 2026