Skip to main content

Featured Project

SWOT Analysis

Strength

Weakness

Opportunity

Threat

• eWOM kuat melalui TikTok

• Positioning spesifik: low porosity & frizzy-wavy

• Identitas premium: Ābhā, Rānī, “Kisah Setiap Mahkota”

• Harga lebih accessible dibanding premium internasional

• Produk memiliki storytelling yang kuat

• Awareness masih terbatas

• Skala followers dan konten masih kecil

• Ketergantungan pada UGC/TikTok

• Ābhā belum menjadi heat protectant

• Konsistensi penyebutan nama brand perlu diperkuat

• Tren edukasi hair porosity

• Konten edukasi & quizhair porosity

• Bundling haircare + styling

• KOL & micro-influencer

• Ekspansi marketplace

• Kompetitor mulai menggunakan positioning low porosity

• Persaingan brand lokal dan internasional

• Brand besar memiliki modal marketing lebih kuat

• Perubahan algoritma TikTok

• Produk all-in-one kompetitor dapat menutup gap produk

Strength Analysis

Di tengah pasar haircare yang semakin ramai, Savjana Hair memiliki kekuatan pada positioning yang cukup spesifik, terutama melalui komunikasi mengenai kebutuhan rambut seperti low porosity dan frizzy-wavy. Celah yang dimainkan Savjana bukan berarti tidak ada satu pun brand yang membahas low porosity. Saat ini, misalnya, Kelaya juga secara eksplisit mengomunikasikan produknya untuk rambut low porosity, sementara Maroli dan Ivere juga telah memiliki produk yang menggunakan pendekatan low-porosity hair.

Namun, ruang yang dapat dimanfaatkan Savjana berada pada penggabungan antara haircare berbasis kebutuhan rambut, pengalaman styling, dan citra premium yang tetap approachable. Hal tersebut terlihat dari produk seperti Ābhā Hair Elixir dan Rānī Hair Fix, yang tidak hanya berbicara mengenai perawatan, tetapi juga kebutuhan sehari-hari untuk membuat rambut lebih mudah diatur dan menunjang penampilan.

Kekuatan lainnya datang dari electronic word-of-mouth (eWOM). Pengalaman pengguna yang dibagikan melalui TikTok membuat produk dapat ditemukan konsumen melalui rekomendasi yang terasa lebih personal dibandingkan komunikasi iklan konvensional. Dengan demikian, konsumen bukan hanya melihat produk sebagai sesuatu yang dijual oleh brand, tetapi juga menemukan Savjana melalui pengalaman orang lain yang memiliki masalah rambut serupa.

Secara visual, identitas Savjana juga memiliki karakter yang cukup kuat. Penggunaan nama seperti Ābhā dan Rānī, lengkap dengan diakritik, serta storytelling “Kisah Setiap Mahkota”, membangun kesan premium dan berbeda dari komunikasi haircare mass-market yang cenderung lebih sederhana.

Weakness Analysis

Di balik positioning tersebut, Savjana masih memiliki keterbatasan dari sisi skala dan awareness. Berdasarkan data yang kamu gunakan, Savjana memiliki sekitar 24.600 followers Instagram dengan 144 unggahan, sehingga secara ukuran komunitas digital masih jauh dibandingkan brand haircare yang telah memiliki distribusi dan awareness lebih luas.

Keterbatasan lainnya adalah ketergantungan terhadap UGC dan momentum TikTok. Ketika banyak pengguna membicarakan produk, awareness dapat berkembang secara organik. Namun, ketika intensitas pembicaraan menurun, brand membutuhkan campaign yang lebih terencana untuk mempertahankan percakapan.

Dari sisi produk, terdapat pula gap pada fungsi heat protection. Apabila Ābhā Hair Elixir digunakan sebagai bagian dari styling tetapi belum menjadi produk heat protectant, konsumen yang menggunakan alat styling panas tetap perlu membeli produk tambahan. Gap tersebut dapat menjadi titik evaluasi bagi brand karena konsumen saat ini semakin terbiasa mencari produk yang dapat memenuhi beberapa kebutuhan sekaligus.

Selain itu, konsistensi nama brand di pencarian digital juga penting diperhatikan. Penyebutan seperti Savjana, Saujana, Savana, atau Sovana berpotensi membuat calon konsumen kesulitan menemukan akun atau produk resmi. Dalam ekosistem digital yang sangat bergantung pada pencarian dan rekomendasi algoritma, konsistensi penamaan menjadi bagian dari brand discoverability.

Opportunity

Peluang Savjana muncul ketika semakin banyak konsumen mulai mengenal konsep hair porosity. Pembahasan mengenai low, medium, dan high porosity semakin mudah ditemukan di media digital; bahkan media seperti detik dan Female Daily telah membahas low porosity sebagai karakter rambut yang membuat produk lebih sulit terserap.

Ini membuka peluang bagi Savjana untuk tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjadi sumber edukasi mengenai cara memahami rambut sendiri. Kemudian diarahkan pada edukasi mengenai porositas rambut, dilanjutkan dengan kuis sederhana, rekomendasi produk, tutorial penggunaan Ābhā Hair Elixir, hingga styling untuk rambut frizzy-wavy. Peluang lainnya adalah bundling. Jika konsumen membutuhkan hair oil sekaligus perlindungan ketika menggunakan alat styling, Savjana dapat mengembangkan bundling atau pasangan produk yang menjawab kebutuhan tersebut. Dengan begitu, brand tidak hanya menjual satu produk, tetapi menawarkan hair routine.

Dari sisi harga, Savjana juga memiliki ruang untuk menempati posisi accessible premium. Ābhā Hair Elixir pada official shop tercantum sekitar Rp117.000 dari harga normal Rp145.000. Sebagai pembanding, Kérastase Elixir Ultime 75 ml tercantum sekitar Rp840.000 untuk botol 75 ml, sementara harga refill yang ditemukan berada di kisaran Rp630.000–Rp745.000 tergantung kanal penjualan. Sachajuan juga berada pada rentang harga premium; misalnya Leave-In Conditioner 100 ml tercantum Rp300.000 dan Hair in the Sun 100 ml Rp549.000.

Artinya, kata terjangkau sebaiknya tidak ditulis secara mutlak. Lebih tepat jika Savjana disebut lebih accessible dibandingkan brand premium internasional tertentu, bukan “murah”. Berdasarkan contoh harga tersebut, harga Ābhā Hair Elixir sekitar 14% dari harga Kérastase Elixir Ultime 75 ml yang dijadikan pembanding.

Threat

Keunggulan pada niche low porosity juga sekaligus menjadi tantangan karena Savjana bukan satu-satunya pemain yang melihat kebutuhan tersebut. Kelaya, misalnya, secara eksplisit menjadikan low porosity sebagai salah satu karakter rambut yang menjadi target produknya dan bahkan menyediakan kuis rekomendasi berdasarkan kondisi rambut

Di marketplace, produk dengan label low porosity juga semakin beragam. Terdapat Maroli Low Porosity Hair & Scalp Oil sekitar Rp89.000, Ivere Root Revival sekitar Rp159.000, serta berbagai produk Wardah yang juga menggunakan pendekatan low porosity.

Sementara itu, Savjana juga harus berhadapan dengan brand premium seperti Kérastase dan Sachajuan, serta brand mass-market yang memiliki distribusi lebih luas. Kérastase, misalnya, menjual Elixir Ultime 75 ml di kisaran Rp840.000, sedangkan lini Sachajuan di Indonesia memiliki produk mulai dari ratusan ribu rupiah hingga paket lebih dari Rp2 juta.

Persaingan tersebut membuat Savjana perlu menjaga diferensiasi agar tidak hanya dikenal sebagai “haircare untuk low porosity”, karena positioning tersebut mulai digunakan oleh beberapa pemain lain.