PROBLEM IDENTIFICATION
- Interaksi di media sosial masih sangat sepi dan Gudeg Keraton belum mencoba bekerja sama dengan food vlogger lokal di wilayah Tangerang Selatan.
- Strategi konten masih kaku dan belum memanfaatkan tren audio & video pendek, teknik storytelling, maupun tautan langsung ke ojek online untuk memicu pembelian instan.
- Margin keuntungan menipis akibat kenaikan harga bahan pokok, namun harga menu sulit dinaikkan karena ketatnya persaingan di kawasan Graha Raya Bintaro.
- Gaya penyajian dan kemasan dinilai terlalu biasa, serta belum beralih ke wadah praktis yang estetis seperti format rice bowl milik pesaing.
SWOT
- Kekuatan (Strengths):
Menawarkan konsep makanan tradisional Jawa dengan variasi menu yang beragam dan cita rasa autentik, sehingga tampil berbeda di tengah maraknya restoran modern. - Kelemahan (Weaknesses):
Cita rasa gudeg yang manis belum tentu cocok untuk semua lidah. Selain itu, brand awareness masih rendah dan konsepnya kurang menarik minat konsumen muda (Gen Z). - Peluang (Opportunities):
Pangsa pasar masakan tradisional Indonesia masih luas. Lokasi di Graha Raya sangat strategis untuk menjangkau warga sekitar, didukung oleh fasilitas layanan pesan-antar. - Ancaman (Threats):
Tingginya persaingan bisnis kuliner dan cepatnya perubahan selera konsumen. Gudeg Keraton dituntut untuk bisa membuat makanan tradisional tetap relevan dan menarik tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
