- Menjaga Konsistensi Rasa
Pertanyaan: Bagaimana Gudeg Keraton menjaga rasa dan kualitas makanan agar tetap konsisten?
Jawaban: Gudeg Keraton memiliki dapur terpusat di cabang Graha Raya. Proses memasak dilakukan terlebih dahulu di dapur terpusat tersebut, kemudian makanan yang sudah siap didistribusikan ke cabang-cabang lainnya. Setelah sampai di masing-masing cabang, makanan akan dipanaskan kembali sebelum disajikan kepada pelanggan. Dengan sistem tersebut, kualitas dan cita rasa makanan dapat lebih mudah dijaga agar tetap konsisten di setiap cabang
- Profil Konsumen
Pertanyaan: Seperti apa profile konsumen Gudeg Keraton saat ini?
Jawaban: Profil konsumen Gudeg Keraton itu cukup beragam. Misalnya, di cabang Alam Sutera, pelanggan lebih banyak berasal dari kalangan pekerja muda atau pekerja kantoran karena lokasinya berada di kawasan perkantoran. Sementara, di cabang Graha Raya, pelanggan lebih didominasi oleh keluarga, terutama orang tua yang datang bersama anak-anaknya karena lokasinya berada di kawasan perumahan.
- Perubahan Selera Konsumen
Pertanyaan: Apakah ada perubahan selera atau kebiasaan konsumen dibandingkan sebelumnya?
Jawaban: Citra rasa dan masakan yang ditawarkan tidak mengalami perubahan sejak dulu. Namun, seiring berkembangnya zaman, tantangannya adalah bagaimana Gudeg Keraton dapat menarik konsumen baru, terutama dari kalangan Gen Z.
- Pemilihan Lokasi
Pertanyaan: Kenapa Gudeg Keraton memilih Graha Raya sebagai lokasi usaha?
Jawaban: Awalnya itu buka usaha di Bandung, tapi pindah ke Graha Raya. Kenapa buka di Graha Raya, karena dulu Graha Raya masih sedikit restoran kulinernya, jadi pesaingnya sedikit. Lalu karena yang order banyak dari Alam Sutera juga, akhirnya kita buka juga di Alam Sutera, dan sebagainya.
- Peran Digital
Pertanyaan: Seberapa besar pengaruh media sosial dan aplikasi pesan-antar terhadap bisnis?
Jawaban: Pasti pengaruhnya besar karena tidak semua orang bisa makan langsung di tempat, jadi online delivery bisa bantu konsumen yang agak jauh untuk pesan. Kalau dari sisi marketing juga gak sedikit dari konsumen kita yang tau Gudeg Keraton dari Instagram. Jadi mereka mulai kontaknya dari situ. Kita juga mau narik konsumen anak muda, jadi media sosial tuh wajib karena mereka mainnya disitu.
- Harga Bahan Baku
Pertanyaan: Bagaimana kenaikan harga bahan baku memengaruhi operasional?
Jawaban: Gudeg Keraton, menggunakan perhitungan rata-rata harga bahan baku dalam satu tahun untuk menjaga kestabilan biaya operasional. Jadi, meskipun harga bahan seperti cabai dapat mengalami kenaikan dan penurunan, biaya bahan bau per porsi telah dihitung berdasarkan harga rata-rata sehingga perubahan harga tidak terlalu mempengaruhi harga jual.
- Supplier
Pertanyaan: Apakah Gudeg Keraton mudah mencari supplier alternatif?
Jawaban: Gudeg Keraton memiliki beberapa supplier untuk setiap jenis bahan baku, seperti ayam dan sayuran. Untuk satu jenis bahan baku terdapat sekitar 3-4 supplier sehingga perusahaan tidak bergantung pada 1 supplier saja. Selain itu, apabila bahan yang diterima tidak sesuai SOP atau standar yang ditentukan, bahan tersebut akan dikembalikan atau dilakukan retur.
- Regulasi & Lingkungan
Pertanyaan: Apakah pemenuhan regulasi seperti halal dan pengelolaan limbah menjadi beban atau justru nilai tambah?
Jawaban: Pemenuhan regulasi seperti sertifikasi halal lebih dipandang sebagai bentuk pemenuhan standar operasional dan memberikan rasa aman kepada konsumen. Bagi Gudeg Keraton, sertifikasi halal bukan menjadi nilai tambah utama karena produk yang digunakan memang berbahan halal, tetapi tetap penting untuk memberikan kepastian kepada konsumen.
- Tantangan & Rencana ke Depan
Pertanyaan: Apa tantangan terbesar dan rencana Gudeg Keraton ke depannya?
Jawaban: Tantangan utama Gudeg Keraton adalah semakin banyaknya kompetitor, terutama bisnis dengan modal yang lebih besar. Untuk menghadapinya, Gudeg Keraton melakukan promosi melalui Instagram serta platform seperti Grab Food dan GoFood. Kedepannya, Gudeg Keraton juga berencana mengembangkan beberapa Brand baru. Saat ini, sudah ada dua Brand baru yang berhasil direalisasikan sebagai bentuk diversifikasi bisnis.

